KAMPUNG SIAGA BENCANA
SEBAGAI UPAYA MENYIAPKAN MASYARAKAT MENGHADAPI RISIKO BENCANA

Koordinasi, Sosialisasi dan Pelaksanaan Kampung Siaga Bencana merupakan salah satu sub kegiatan Penyelenggaraan Pemberdayaan Masyarakat terhadap Kesiapsiagaan Bencana Kabupaten/Kota. Hal itu tertulis pada Peraturan Bupati Wonogiri Tahun 2021 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Wonogiri Tahun Anggaran 2022.
Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri dalam hal ini sebagai pelaksana, melaksankanan Kegiatan tersebut pada hari Rabu, 15 Juni 2022 di Desa Sumberagung Kecamatan Pracimantoro dan Kamis, 16 Juni 2022 di Desa Paranggupito Kecamatan Paranggupito. Acara dihadiri oleh Ketua RT, RW, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, dan Relawan Desa sejumlah 30 orang.
Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dan selesai pada pukul 14.00 WIB di masing-masing tempat. Sub. Koordinator Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri, Bapak Arena Yudi Suryawan, S.Sos.,MM. menyampaikan laporan penyelenggaraan acara dilanjutkan dengan sesi Sosialisasi KSB.
Materi mengenai KSB disampaikan oleh Bapak Maryono, S.Sos., M.Si. selaku Kabid. Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri. Dalam kesempatan itu Bapak Maryono menjabarkan betapa pentingnya KSB untuk menyiapkan masyarakat agar lebih mampu mengelola kerentanan, ancaman dan risiko di wilayahnya sesuai dengan potensi lokal.
KSB yang merupakan model pendekatan penganggulangan bencana berbasis masyarakat diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi. Adanya unsur budaya lokal yang dilibatkan dalam kegiatan dapat menumbuhkan kesadaran lebih tinggi bagi masyarakat. KSB menjadi wadah yang dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar.
KSB merupakan salah satu upaya mitigasi dalam lingkup komunitas untuk mengurangi risiko bencana melakui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan bahwa salah satu tujuan dibentuknya KSB adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana.
Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah dibentuknya jejaring siaga bencana berbasis masyarakat, memperkuat interaksi sosial, mengorganisasikan masyarakat terlatih siaga bencana, menjamin terlaksananya kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat yang berkesinambungan, serta mengoptimalkan potensi dan sumber daya untuk penanggulangan bencana.
Materi kedua mengenai kebencanaan dan simulasi dapur umum disampaikan oleh Tagana. Tagana merupakan relawan sosial yang merupakan salah satu bagian dari PSKS. Merujuk pada Permensos RI No. 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), PSKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang dapat berperan serta untuk menjaga, menciptakan, mendukung, dan memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan sosial. dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) adalah seorang relawan yang berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana.
Anggota tagana yang mayoritas adalah para pemudi-pemuda dapat memelihara komunikasi dengan para relawan baik di desa maupun kecamatan agar terbentuk sinergi kegiatan pelayanan masyarakat. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai keberhasilan program baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kebencanaan dapat berjalan dengan baik.
Simulasi dapur umum dilakukan untuk memberikan gambaran nyata pada para peserta agar dapat bergerak lebih responsif ketika terjadi kondisi darurat. Para peserta terlihat antusias dan menyimak dengan baik simulasi tersebut. Adanya pemahaman ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi pada masyarakat sekitar. (Desi K.S)



